Hemat Air hingga 20%, Kementan Dorong Pengelolaan Air Sawah Hadapi Kemarau
Rilis Kementan, 27 Maret 2026 Nomor: B-218/HM.160/7/03/2026
Jakarta – Upaya efisiensi air menjadi kunci menghadapi musim kemarau yang kian tidak menentu. Kementerian Pertanian mendorong penerapan pengelolaan air sawah yang lebih hemat melalui metode Alternate Wetting and Drying (AWD), yang terbukti mampu mengurangi penggunaan air irigasi hingga 20 persen tanpa menurunkan produktivitas padi.
Teknologi ini menjadi bagian dari strategi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, dengan fokus pada efisiensi penggunaan sumber daya air yang semakin terbatas. Melalui AWD, petani dapat mengatur pemberian air secara lebih terukur sehingga tanaman tetap tumbuh optimal meskipun dalam kondisi keterbatasan air.
Dalam beberapa kesempatan, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pengelolaan air merupakan faktor penentu dalam menjaga keberlanjutan produksi pertanian, terutama di tengah ancaman kekeringan.
“Pengelolaan air menjadi faktor krusial dalam keberhasilan produksi pertanian. Ketersediaan air yang terencana dan efisien sangat menentukan dalam menekan risiko kekeringan serta menjaga produktivitas,” ujar Mentan Amran.
Sejalan dengan hal tersebut, Kepala BRMP, Fadjry Djufry, menyampaikan bahwa AWD merupakan inovasi yang dirancang untuk menjawab tantangan nyata di lapangan, khususnya saat musim kemarau.
“Teknologi Alternate Wetting and Drying (AWD) merupakan solusi adaptif dalam menghadapi keterbatasan air. Dengan pengaturan air yang terukur, petani dapat menjaga kondisi tanaman tetap optimal sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap penggenangan terus-menerus, sehingga lebih siap menghadapi risiko kekeringan,” ungkapnya dalam keterangan tertulis, Kamis (26/3).
Fadjry menambahkan bahwa AWD merupakan teknologi yang dikembangkan oleh International Rice Research Institute pada 2009, dan mulai diadaptasi di Indonesia oleh Kementerian Pertanian sejak 2013.
“Berdasarkan hasil pengujian selama enam musim tanam, melalui teknik AWD ini, kelangkaan air di lahan sawah dapat ditekan, bahkan dihindari. Teknologi ini dapat menghemat penggunaan air irigasi 17-20%.” ucapnya.